Berhentilah Sejenak. Hidup Ini Berat

    Buat kamu yang tidak pernah berhenti berlari supaya hidup tidak meninggalkanmu dengan segala kepiluan sebagai yang tidak mampu dan karena itu tidak berharga.

    Buat kamu yang selama ini memikul beratnya hidup sampai mengira itu semua ringan dan baru tersadar saat mencoba mengangkatnya kembali setelah menaruhnya sebentar. 

    Aku ini bukan orang yang pundaknya kurang kekar atau lengannya kurang berotot. Beban-beban yang diberikan kehidupan sudah puas rasanya ku pikul sambil terus berlari tanpa menoleh ke belakang sekali pun. Sekarang aku sudah jauh dari titik mulaiku, pulang atau tidak bukan lagi yang kuinginkan karena di sana atau di sini sama saja: pundakku membawa beban! Bagaimana dengan kamu, masih ingin pulang? jangan bilang kamu bahkan tidak punya tempat untuk pulang... aku tidak bisa mengajakmu pulang denganku karena tempatku itu bukan juga yang akan membuatmu merasa sudah pulang. Begini maksudku: aku dari sana tetapi tidak merasa pernah ada di sana seutuhnya. Aku pergi dengan menyadari aku tidak pernah sepenuhnya diinginkan sejak kehadiranku di dunia. Wajahku adalah aib dan kebanggaan sekaligus. Aib karena hadirku melalui jalan panjang penolakan, kebanggaan karena aku bertahan hidup dengan menjaga wajah mereka yang menolakku tidak tercoreng. Lagi, aku pergi tanpa merasa takut kehilangan tuntunan karena aku ini tumbuh di jalanan, belajar hidup dari kawan dan menjadi dewasa karena tekanan. Buktinya, sudah jauh pun aku masih ingin pulang tetapi tidak pernah selesai dengan pertanyaan: untuk apa pulang? 

    Bagaimana denganmu, masih ingin pulang? kalau pulang itu sekadar kembali ke tempat dimana engkau berasal, tradisi mudik sekali dalam perdiode waktu tertentu saja rasanya lebih dari cukup ya. Pulang itu kembali ke tempat dimana hati tertinggal. Jadi, kalau fisikumu ke sana dan ternyata hatimu di sini, bukankah lebih baik pulangmu itu di sini saja? karena hidup ini lebih dari soal pulang atau tidak, bagaimana kalau aku menawarkan secangkir kopi pahit untuk menemani bincang kita? dalam bicang kali ini ku suguhkan menu "Berhenti Sejenak" karena jelas aku tak mau menemanimu sampai matahari terbenam. 

    Soal berhenti sejenak ini, kamu pasti menangkap dengan mudah maksudku: 1. Berhentilah, karena hidup tetaplah hidup dan berhenti adalah bagian darinya. 2. Sejenak saja, karena kalau terus berhenti kamu sudah menyerahkan kebebasanmu kepada waktu untuk mengatur semaunya. Tinggal lihat sampai kapan kamu bertahan dan setelah itu kemana ia akan membuangmu sebagai yang kalah. Jelas saja aku bisa menulis ini untukmu karena aku juga sedang berhenti sejenak. Dari kepala sampai badanku dipenuhi tumpukan perasaan negatif sampai aku hanya ingin tidur di dalam kamarku yang gelap tanpa cahaya matahari atau pun lampu. Jelas aku bukan orang tak berilmu dengan akses pendidikan formal tetapi antara isi kepala dan kenyataan hidupku ini memang berjarak seperti kesenjangan sosial di negara kita. Aku tahu membedakan: mana yang up to me dan not up to me; mana yang logis di antara asumsi dan ekspektasi; mana yang disebut kebebasan dan menyerah. Sekarang aku tuliskan sedikit contohnya untukmu ya:Aku ini mahasasiswa strata 2 sejak 2019 yang saat ini memilih tidak menghidupi tugasku sebagai seorang sivitas akademika. Aku ikut kelas tanpa semangat ingin tahu yang lebih, ya seadanya saja ikut seumpama gelas kosong yang siap diisi apa saja. Hasilnya? aku jalan di tempat. Aku belum berhenti tetapi fakultas memintaku berhenti sejenak alias dicutikan. Selanjutnya tergantung pada hasil penijauan.Berhenti sejenak ini benar-benar menjadi ruang bernafas untukku, menengok kembali motivasiku, membangun kembali kepercayaan diriku dan menilai apakah aku bahagia di jalan ini? tentu saja untuk berhenti sejenak yang seperti ini harganya tidak murah: waktu tempuh akademis yang semakin panjang = tanggungjawabku di sini semakin lama ku pikul = aksesku ke pengalaman baru dengan jalur strata 2 masih tertutup. Harga lain yang harus kubayar tentu saja biaya administrasi cuti. Aku menyesal? sedikit, tapi lebih banyak pada syukur untuk diberi kemauan memaknai waktu berhenti sejenak ini. Jadi, bagaimana denganmu?


Komentar